Goes to Mandalawangi

DSCF2862

Sebuah perusahaan bisa maju salah satunya tergantung dari individu-individu di dalamnya, bukan? Tapi, memangnya semua orang bisa bekerja sendiri-sendiri? Sementara satu perusahaan saja bisa memiliki ratusan pegawai, yang pada kenyataannya memiliki tujuan, karakter, dan segala hal yang berbeda. Maka dari itu sering sekali kita mendengar tentang team building yang tujuannya apalagi kalau bukan membentuk kekompakan dan kesamaan visi misi di antara mereka semua.

Dan untuk itu pula, gathering-gathering sering diadakan oleh beberapa perusahaan, salah satunya ya tempat saya bekerja sekarang, agendanya memang setiap setahun sekali (itupun kalau tidak ada project-project yang membelit). Contohnya, gathering tahun 2014 yang baru diadakan tahun ini.

Niat awalnyaaa … adalah naik gunung.

Saya sih lumayan excited jika benar memang akan naik gunung, tapi melihat kondisi rekan-rekan satu divisi yang kalau ditotal mencapai 40-an orang dan sebagian sudah lumayan berumur, agak worry juga sih, walaupun gunung yang rencananya didaki memang untuk pemula.

Akhirnya setelah jadwal yang agak-agak mundur, jadilah keputusannya gathering ke Cibodas.

Awalnya saya sangsi, memangnya di Cibodas ada apa ya?

Saya baru tahu ternyata di sana ada tempat yang bernama Mandalawangi. Mereka menyediakan jasa kemah, outbound, dan masih banyak lagi. Mungkin bisa intip di sini untuk info lengkapnya.

Okay, untuk temanya memang sudah melenceng dari rencana semula, yaitu naik gunung menjadi kemah di alam terbuka, tapi konsepnya sih masih sama-sama outdoor, cuma lebih minimalis aja πŸ˜€

Saya dan teman-teman berangkat dari Jakarta Selatan jam 6 pagi menggunakan bus sewaan, sampai di tempat tujuan sekitar pukul 1 siang, padahal cuma Cibodas lhooo, kami memang melewati jalur Puncak yang beken banget dengan macetnya di hari libur. Jadi kami pun sudah siap mental jika memang ngaret di perjalanan.

Sampai di sana, ternyata banyak anak-anak pramuka juga yang lagi camping, teruuuus gara-gara baju gathering kami yang warnanya cokelat, tiba-tiba berasa jadi kakak pembina mereka T__T

Sampai di sana sudah tersedia makanan kecil dan es teh manis! *baca doa langsung glek*

jangan tepuk tangan dulu, tenda-tenda ini bukan kami yang pasang sendiri, tapi sudah dipasangin dari pihak sananya, terima jadi :D
jangan tepuk tangan dulu, tenda-tenda ini bukan kami yang pasang sendiri, tapi sudah dipasangin dari pihak sananya, terima jadi πŸ˜€
kapan lagi kamu bisa tidur dikelilingi pemandangan seperti ini?!
kapan lagi kamu bisa tidur dikelilingi pemandangan seperti ini?!

Judulnya juga kemah, jadi kami akan tidur di tenda, tidak perlu khawatir dengan serangga atau alas yang keras, atau tidak punya keahlian memasang tenda, sudah terima jadi coy! Plus kasur empuk sebagai alasnya. Satu tenda bisa untuk lima orang, tapi tenda saya hanya diisi oleh 4 orang, maklum ceweknya kan dikit πŸ˜€

Tempatnya adeeeem banget, walaupun kadang matahari terik, tapi tetep udaranya sejuk.

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, barulah saya tahu kalau ternyata tempat ini adalah lapangan golf yang dialihfungsikan menjadi lahan kemah (memang hijau banget sih).

inilah penampakan kami :D
inilah penampakan kami πŸ˜€

Setelah makan siang (ini juga sudah disediakan dari pihak Mandalawangi) kami main outbound, semacam games seru-seruan yang ditujukan untuk melatih kekompakan gitu (khasnya gathering2 kantor lah)

seru :D
seru πŸ˜€
disuruh mindahin bola dengan 6 benang, sabar ... ujung-ujungnya teriak-teriak juga :D
disuruh mindahin bola dengan 6 benang, sabar … tapi ujungnya teriak-teriak juga πŸ˜€
menurut saya sih yang paling kocak ini, intinya cuma disuruh nurunin tuh tongkat ke tanah, tapi .... kagak nyampe-nyampe wkwkwkwk!
menurut saya sih yang paling kocak ini, intinya cuma disuruh nurunin tuh tongkat ke tanah bebarengan, tapi …. kagak nyampe-nyampe wkwkwkwk!

Masih banyak lagi games-nya, semuanya seru-seru, malamnya kami bakar api unggun, dan saat ini lah, udara sedang dingin-dinginnya!

gak usah bawa kayu bakar dari Jakarta, sudah disiapin juga, jagungnya juga :D
gak usah bawa kayu bakar dari Jakarta, sudah disiapin juga, beserta jagungnya πŸ˜€

Sambil bakar api unggun, sambil makan jagung rebus, sekalian pembagian hadiah untuk tim-tim outbound tadi siang, kelompok saya juara tiga πŸ˜€

Acara lanjutannya adalah bakar lampion … (?) mungkin lebih tepatnya nerbangin lampion kali ya, secara kalau bakar lampion sih gampang, ceburin aja di api unggun.

senengnya bukan main saat berhasil, gak peduli akhirnya tuh lampion nyangkut di rumah orang juga
senengnya bukan main saat berhasil nerbangin, gak peduli akhirnya tuh lampion nyangkut di rumah orang
numpang foto di depan lampu sorot deket tenda :D cahayanya oke bgt
numpang foto di depan lampu sorot deket tenda πŸ˜€ cahayanya oke bgt

Saya kira nerbangin lampion itu gampang, ternyataaa sodara-sodara, susaaaah. Mungkin tergantung juga dari lampion yang kamu beli, kebetulan lampion yang kami beli mutunya kurang bagus (ini kesaksian langsung dari teman saya yang membeli). Berikut ini adalah faktanya:

  • Lampion itu tidak terbang dengan sendirinya, bukan juga karena angin, tapi karena uap panas yang dihasilkan semacam lilin parafin yang dibakar di bagian bawahnya.
  • Lilin ini juga tidak seperti lilin yang biasa kamu pakai saat mati lampu, menyalakannya juga butuh waktu
  • Sebelum menyalakan lilin juga kamu harus membentangkan lampion dengan baik (butuh minimal dua orang, satu untuk membentangkan lampion, satunya lagi membakar lilin, tapi bagi kami yang newbie, kami butuh 4 orang!!)
  • Lilin sudah nyala, kertas lampionnya juga sudah dikembangkan, eiiitss … jangan dilepas dulu, uapnya belum cukup untuk menerbangkan sang lampion, kamu harus menunggu sampaaiiiii …. ng …. sekitar …. (hanya Tuhan yang tahu) kamu kira-kira saja wkwkwkwk. Di percobaan pertama, saya dan ketiga teman saya tidak yakin kapan harus melepaskan lampion itu, sampai pada akhirnya lilin parafinnya mati ………. yahellaaaaaaah!!!!

Untungnya setelah beberapa kali percobaan, kami berhasil menerbangkan satu lampion!!! Senengnya bukan main, seperti salah satu beban hidup kami ikut diterbangkan (halah).

Kegundahan mulai hinggap saat lampion itu nyangkut di pohon

“Kalau pohonnya kebakar gimana?” sahut salah satu teman mulai khawatir, kami tidak mau dicap sebagai pembakar hutan atau perusak lingkungan. Kemudian kami lihat sekitar ternyata ada juga lampionnya yang nyangkut di pohon yang sama.

“Nah, kalau gini kan gak cuma kita yang lampionnya nyangkut,” teman saya mulai nyeletuk lega.

“Lah bukannya semakin banyak malah semakin besar kemungkinan kebakarnya yah??” pikir saya.

Percobaan berikutnya, angin mulai bersahabat, lampion kami jauh melambung tinggi ke atas, tanpa nyangkut, tanpa mampir ke tenda seberang, pokoknya terus naik ke atas, senengnya sudah ditambahin dengan sorak-sorai alay.

“Eh itu sampai kapan ya dia naik terus? Nanti kalau kena pesawat gimana?” sahut teman saya.

*saya garuk-garuk kepala*

Tapi untunglah sampai esok paginya, tidak ada laporan-laporan mengerikan terkait dengan kegiatan kami menerbangkan lampion, misalnya kebakaran hutan atau apalah. Hanya saja ada laporan kalau ada lampion yang nyasar ke kemah sebelah tempat anak-anak pramuka, maaaf ya adik-adik, semoga kamu tidak mencontoh kami…

hebohnya para pemula ini
hebohnya para pemula ini

Setelah lampion habis semua “diterbangkan” *ehem … ada juga yang dibakar di api unggun karena frustasi gak bisa-bisa* maka tibalah saatnya untuk istirahat (bagi yang mau istirahat, karena masih ada kok yang semangat genjreng gitar, lagu apapun ya nadanya itu-itu aja :D)

Semakin malam semakin dingin, tapi tenang setiap orang dibekali dengan sleeping bag, saya sendiri tidak sempat pakai karena baru merasa dingin sekitar pukul 4 pagi, agak males juga untuk melek.

Besoknya, kami trekking ke Curug Cibeureum yang pintu masuknya sama dengan pintu masuk kalau kamu mau mendaki ke Gunung Gede.

masih satu kawasan, dekat dengan perkemahan, cukup jalan kaki ke pintu masuk ini
masih satu kawasan, dekat dengan perkemahan, cukup jalan kaki ke pintu masuk ini

Untuk trekking sejauh 2.8 km ini, kamu perlu mendaftar dulu di pos penjagaan, untuk trekking sekitar 1 jam-an ini saya tidak membawa apa-apa, hanya sebotol air minum dan topi. Selama perjalanan kamu akan disuguhi pemandangan yang hijau dan bagus banget. Saran saya, jangan trekking dengan sendal jepit ya, minimal ya sendal gunung, untuk kenyamanan kamu juga kok hehe.

tuh pemandangannya, ajib yaa :D
tuh pemandangannya, ajib yaa πŸ˜€
siapa bilang pelangi cuma ada di atas, tuh pelanginya ada di belakang :D
siapa bilang pelangi cuma ada di atas, tuh pelanginya ada di belakang πŸ˜€
mulai keluar alaynya, secara di Jakarta gak ada beginian, moso mau beginian di air terjun lobby kantor? :D
mulai keluar aslinya, secara di Jakarta gak ada beginian, gak mungkin main air di air terjun lobby kantor πŸ˜€

Selepas main air kayak kecebong di air terjun ini, kami kembali trekking (menghela nafas) kembali ke tenda dan siap-siap pulang ke Jekardaaah!

Seru lah intinya gathering ini, walaupun hari Seninnya banyak yang cuti atau mijit-mijit kaki di kantor hahahahhaha

Semoga gathering selanjutnya lebih unik lagi πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: